Tuesday, March 29, 2005

Secangkir Kopi



Secangkir kopi hangat terhidang di meja. Mengeluarkan aroma khas kopi pilihan. Arabica. Mungkin itu jenisnya. Saya tidak begitu hafal dengan kopi-kopian. Apalah namanya itu tak terlalu penting, tetapi saya bisa menikmati segarnya setiap pagi. Mengepul asap berwarna putih tipis membumbung ke udara. Sejurus melenyap, terhempas udara yang mengalir di ruangan, membasahi kerongkongan dan menimbulkan hangat di tubuh. Nikmat.

Kopi, dari jazirah Arabia melintas Samudera Hindia dibawa. Singgah di bukit-bukit dan punggung-punggung pegunungan Nusantara. Tumbuh subur mendentingkan gemerincing uang ke seantro dunia. Syahdan akibat Perang Jawa dan Perang Paderi di Sumatera, bangkrutlah kas VOC yang digdaya. Van de Bosch, Gubernur Jenderalnya punya ide cemerlang yang kelak menestapakan. Ia bikin beslit tanam paksa. Kopi salah satunya. Rakyat wajib menanamnya, hasilnya untuk pemerintah Hindia Wolanda. Akibatnya sawah tak terurus. Kebun dan Pekarangan terbengkalai. Prahara pun datang. Ribuan rakyat bergelimpangan menyambut ajal.

Kekurangan pangan. Itulah nestapa yang selalu berpihak pada rakyat kecil tak berpangkat, yang mengais rizki dari sepetak tanah yang tiada tidak bisa menghasilkan lagi –tepatnya, bisa menghasilkan tetapi tidak bisa dinikmati. Saya mendengarkan cerita itu dari kakek. Mbah Samin, begitulah beliau saya panggil, satu-satunya kekek yang masih hidup saat ini bercerita banyak tentang kehidupan keras yang pernah dialaminya. Jangan melihat beliau dari nama, meskipun namanya Samin, ia bukanlah seorang yang samin yang biasa berkata apa-adanya dan bertindak nyeleneh itu. Mbah Samin bukanlah dari suku samin yang merupakan orang pedalaman berasal dari Bojonegoro. Namanya itu adalah pemberian orang tuanya kepadanya. Meskipun tidak bagus, ia sudah menerima dengan bangga. “Samin itu ya samin,” katanya terkekeh-kekeh ketika saya meminta arti sepotong namanya itu. Rupa-rupanya ia tidak bisa (tidak mau?) menafsirkan sepotong namanya. Biarlah ia dinamai seperti itu, barangkali begitu. Ia tidak begitu peduli. Prilakulah yang lebih dinilai ketimbang nama. Buktinya, sekarang ini banyak orang yang bernama bagus, tetapi namanya tidak mencerminkan kelakuannya. Para pejabat yang mempunyai nama bagus seperti Yusuf Hidayat, Bambang Mudiyarto, dan sederet nama lain yang berarti bagus, harus mendekam dipenjara karena tidak bisa menjalankan amanah sebagai pejabat. Kedudukannya yang strategis malah membuatnya gelap mata, menilap uang yang seharusnya bukan haknya. Itu yang kelihatan, ia yakin masih banyak hukum yang tidak bisa menjerat mereka –para koruptor itu.

Ia bukanlah kakek dari garis keluargaku, tetapi tetangga yang selau rajin ke musala dan tiada pernah absen sehari pun. Itulah kelebihan belau yang patut ditiru. Pernah suatu hari hujan lebat mengguyur, ia masih tetap kelihatan melintas di depan rumah untuk pergi ke musala. Dengan berbekal plastik terbungkus seluruh tubuhnya ia berjalan tertatih-tatih menerobos rintik hujan yang memutih. Ia masih kelihatan bugar, dan semoga saja kesehatan selalu lekat pada badan ringkihnya.

Dari beliau saya korek banyak cerita. Rupa-rupanya beliau pandai juga berkisah. Kisah-kisah tentang kerasnya kehidupan mengalir dari mulutnya. Ditemani segelintir rokok kretek lintingan sendiri, ia berkisah. Ia mempunyai ingatan yang sangat baik, dan dapat menyebut peristiwa demi peristiwa dengan menakjubkan. Kependudukan VOC, romusha atau kerja paksa, dan juga semasa Jepang yang membuat sengsara. Bahkan, ketika Aceh diguncang gempa dan tsunami beberapa waktu lalu, ia juga merasa prihatin. Katanya, rakyat Aceh banyak berjuang demi negara ini, tanpa mereka akan sulit rasanya negeri ini bisa menikmati kemerdekaan.

Saat kependudukan VOC, semua penduduk sengsara. Sepetak tanah yang digadang-gadang akan menghasilkan pangan tidak bisa memenuhi harapan. Terlebih sistem perampasan paksa dengan imbalan tak seberapa dilakukan oleh VOC. Kemarau panjang yang melanda yang membuat tanah mengering. Hujan yang semestinya datang dan ditunggu-tunggu tiada hendak akan turun. Malah matahari semakin garang. “Kami hanya bisa makan hati pisang,” katanya menerawang sambil menghisap rokok kreteknya. Bisa saya bayangkan bagaimana rasanya harus memakan hati pisang untuk sekadar mengganjal perut yang melilit. Ah, kesengsaran itu belum peran saya rasakan…

Ceritanya, setiap warga wajib mengikuti kerja pembangunan rel untuk lintasan kereta yang akan membawa hasil panen ke negeri sana. Entah kemana ujungnya, ia sudah ada saat saya lahir. Katanya, ia menuju Jakarta yang waktu itu masih bernama Batavia. Di sana, kemudian diangkut ke Belanda. Ya, saat itulah kesengsaran yang tiada duanya. Kemiskinan. Selalu menghiasi setiap kehidupan. Memberi keseimbangan untuk tingkat yang namanya strata kehidupan. Bukankah kalau tiada orang miskin tiada orang kaya? Asal kemiskinan yang menggrogoti dinikmati dengan syukur, semuanya akan diganti dengan kehidupan yang berlimpah-limpah, kelak. Bahkan, orang miskin diperbolehkan berkumpul dengan Nabi Muhammad, karena beliau juga termasuk orang miskin dan suka berkumpul dengan orang-orang miskin. Kenikmatan mana yang lebih dari ini? Mesyukuri kemiskinan, suatu hal yang sangat berat. Berat, dan sangat berat. Karena berat itulah banyak yang tidak bisa menjalani kemiskinannya dan memilih untuk melanggar, meskipun hal yang dilakukannya tidak mengubahnya menjadi kaya.

“Puffh!” Pahit.
Apa-apaan ini? Kopi yang sudah terlanjur masuk di dalam mulut berhamburan keluar. Membasahi meja dan juga koran pagi yang tergeletak di meja. Hampir saja kalimat latahku keluar. Tapi untunglah saya bisa mengendalikan emosi. Astaghfirullah… Mungkin istriku lupa memasukkan gula. Apa? Lupa? Masak sih bisa lupa memasukkan gula, padahal ia selalu membuatkan kopi yang nikmat dengan adonan yang pas. Kopi dengan gula agak banyak sehingga terasa manis, walaupun tidak terlalu legit –inilah kopi kesukaanku.

Mengingat kepahitan kehidupan yang dialami Mbah Samin, emosiku menjadi sirna. Apalah arti pahitnya kopi bila dibandingkan dengan kehidupan yang dialami olehnya? Barangkali saya harus mencari gula sendiri. Ya, begitu lebih baik daripada menggerutu.

Klek. Saya buka tutup wadah gula. Kosong. Saya lupa kemarin malam istriku mengeluh kekurangan belanja. Telor naik, minyak naik, bawang merah naik. Sedangkan pemberianku tidak mencukupi.